![]() |
| photography by Refa, digital manipulation by Sarrie |
Kita harus cek ke dalam dan cek ke luar. Pesan yang sama biasanya datang berulang. Lewat suara hati, atau gejala alam. Dan walaupun pikiran kita ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kita seperti sudah tau.
Jika kita tidak suka dengan yang dikatakan firasat kita, kita hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak, menyangkal, cuma bikin kita lelah.
Perlukah kita peringatkan? Kalau sudah diperingatkan apakah bisa batal?
Batal atau tidak, yang memang harus terjadi akan terjadi. Kalau kita rasa perlu memperingatkan, pasti kita akan dimampukan. Tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kita kepingin, kita tidak akan bisa.
Untuk apa seseorang tau sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah?
Kita tak tau dan tak pernah pasti tau hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu, untuk apa? Untuk apa tau sebelum waktunya?
Memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita yang dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. Sering kali firasat justru menjadi siksa.
Kita harus belajar menerima. Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan berdamai dengan hidup ini.

Keseimbangan itu mulai hilang. Bumi kita sedang marah, ibu pertiwi menangis dan semua karena kita. Pesan dari saya, jangan lupakan alam kita, jangan lupakan adat kita semodern apapun kita sekarang. Istilah orang Jawa, "wong jawa aja lali karo jawane" ^_^ tetap semangat dan jangan lupa berdo'a ya.. :)
ReplyDeletengomong opo, di lakoni seng apik sek, baru ngomong
ReplyDelete